Skip to main content

Kemuliaan para shahabat

Tingkatan para shahabat itu berbeda-beda. Shahabat yang lebih lama bersama rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam maka kedudukannya lebih tinggi, seperti assabiqunal awwalun. Kemudian shahabat yang berjumpa dengan rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam beberapa waktu. Kemudian shahabat yang berjumpa dengan rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam beberapa saat saja. 

Para shahabat pun ada yang tingkatannya sampai kepada mujtahid, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Ada pula yang tingkatannya seperti ulama, seperti Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Ibnu Umar, Annas bin Malik dan lain-lain. Ada yang tingkatannya di bawah itu. Dan ada yang tidak sampai seperti tingkatan sebelumnya.

Namun mereka semua mulia, dan mereka semua adalah umat-umat pilihan yang mana keistimewaan mereka telah dikabarkan oleh rasulullah Shallalahu 'alaihi wa salam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Jangan engkau cela shahabatku, jangan engkau cela shahabatku, jangan engkau cela shahabatku! Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya. Seandainya di antara kalian ada yang berinfaq dengan emas sebesar Gunung Uhudniscaya tak akan bisa menyamai infaqnya satu mud gandum atau sya'ir dari para shahabatku, bahkan tidak setengahnya" (Dikeluarkan oleh Bukhary 3/3673, dan Muslim (2540)).

Comments

Popular posts from this blog

Hidup adalah Ujian

Barang yang masih ingin hidup di dunia maka berarti dia masih ingin diuji, karena kehidupan tak lepas dari ujian... Barang siapa yg ingin hidup selalu tentram dan senang tanpa ada ujian sama sekali, maka sungguh ia telah mengharapkan kemustahilan..., bahkan pada hakekatnya dia sedang mengharapkan kematian... Ternyata setelah kematian pun di alam kubur dan di padang masyhar masih ada ujian berat yang menanti... Tidak ada peristirahatan yang hakiki kecuali di surga... Sungguh kita semua adalah musafir...dan kita tdk akan berhenti dari safar kita hingga kita sampai pada tujuan terakhir...surga atau neraka... oleh: ustadz Firanda Andirja

Macam-macam Dasar Pemikiran

Orang yang dasar pemikirannya adalah orientalis, maka dia pun akan berpikir secara orientalis.  Orang yang dasar pemikirannya adalah filsafat, maka dia pun akan berpikir secara filsafat.  Orang yang dasar pemikirannya adalah Al Qur'an dan As Sunnah, maka ia pun akan berpikir dengan dasar ini. Ia menganggap sesuatu jelek dan baik dengan pertimbangan Al Qur'an dan As Sunnah. Selain Al Qur'an dan As Sunnah, maka setiap orang akan berpikir "Bagaimana enaknya". Mereka yang berpikir sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka mereka akan berpikir "Allah ridho tidak ya? Sesuai dengan Al Qur'an tidak ya? Sudah sesuai dengan sunnah tidak ya? Melanggar perintah Allah tidak ya?"

Perilaku Mahasiswa

Perilaku Mahasiswa: Awal perkuliahan, "Ah, kuliah ini akan menyenangkan" Agak awal-awal, "Bisa dilewatilah hari ini, kan yang penting 80% kehadiran" Pertengahan, "Aduh banyak kegiatan, ijin ama dosen dulu ah" Agak akhir-akhir, "Bro pinjem catetan yang ketinggalan ya" Akhir-akhir, "Harus dateng untuk melengkapi 80% kehadiran" Sebelum Ujian, "Kebut semalam dong" Setelah Ujian, "Pak dosen, plis tambahin dong nilainya masa' segini, atau ada tugas tambahan gitu?" Setelah tahu IPK jeblok, "AARRGGHH, dosennya rese' masa' ndak bisa naikin nilainya sih?"